Minggu, 22 Maret 2015

Self-Image and Self-Presentation

Bismillahirohmanirohim,
"... Sekarang kelas berapa mbak? oh sudah kuliah.. kuliah dimana sekarang? UNAIR, fakultas apa? Psikologi.... wah enak ya bisa ngerti orang. berarti sering di curhatin temen-temennya ini ......................... (dan selanjutnya)"
Iya, saya mahasiswa yang menuntut ilmu dan menimba pengalaman di Fakultas Psikologi. Bila Anda seorang mahasiswa psikologi, mungkin Anda sering sekali mengalami seperti yang saya alami. Banyak sekali stereotype di kalangan masyarakat yang melekat pada profesi saya kelak (amiin). Mungkin Anda sendiri telah mengetahui stereotype apa yang saya maksudkan disini. Beberapa stereotype yang melekat pada profesi kami diantaranya,
"Psikolog itu selalu berpakaian rapi ya, enak dilihat. Psikolog itu pasti bisa liat orang. Psikolog pasti orangnya enak di ajak ngobrol, curhat. Psikolog itu ngurusi orang gila-gila ya. Psikolog itu bisa ngebaca orang ya. Psikolog itu menantu idaman ya"
Suatu hari, dengan tas yang masih melekat dipunggung saya. Sebelum pulang ke rumah, saya terlebih dahulu membeli sebungkus bakso langganan yang berada tidak jauh dari rumah. Ramainya pembeli membuat saya harus menunggu sejenak. Tersedia banyak bangku disana, sehingga pembeli dapat dengan nyaman menunggu. Lapar? tidak seberapa, hanya saja kala itu saya sedang lelah hingga saya melamun dan disadarkan oleh seorang bapak-bapak yang membawa anak perempuannya. Percakapan pun dimulai dari bapak tersebut, dan menanyakan pertanyaan seperti diatas. Ketika bapak tersebut memulai bertanya, saya berusaha untuk menghilangkan wajah lelah saya. Tidak hanya itu, saya mencoba mendengarkan dan memberikan feedback meski saya sedang dalam keadaan yang sangat lelah. 

Saya secara sadar memandang dan menganggap diri saya adalah seorang mahasiswa psikologi sehingga saya berusaha untuk memberikan feedback yang positive dan menerapkan active learning ketika berkomunikasi dengan bapak tersebut. 
Sama halnya ketika saya ditugaskan untuk menjadi tester suatu alat ukur psikologi. Saya berhadapan dengan klien yang sesungguhnya, sehingga saya harus menganggap bahwa diri saya adalah seorang tester. Tidak hanya menganggap diri saya sebagai tester, namun saya juga harus berpakaian rapi dan melakukan semua yang seharusnya tester lakukan. 

0 komentar:

Posting Komentar